Wednesday, December 24, 2025

BESTI DAN HAL-HAL SEDERHANA

Selasa, 18 Desember 2025

Seminggu yang lalu, aku sengaja mengajak besti-bestiku untuk bertemu. Kalau kamu mengikuti ceritku dari awal, pasti tahu siapa mereka. Saat ini, besti terdekatku adalah Mbak Palupi dan Mbak Yuli. Mereka memiliki karakter yang berbeda: Mbak Pal yang super ekspresif dan super ramah, sedangkan Mbak Yul lebih soft spoken, dan tenang, kebalikan dari Mbak Pal.

Kami janjian bertemu dan makan bersama di hari Selasa, bertepatan dengan hari Mbak Yul pulang kerja lebih cepat. Kami sepakat berkumpul di rumah Mbak Pal jam 2 siang. Sayangnya, siang itu cuaca begitu gelap. Hujan gerimis yang kemudian berubah menjadi hujan deras sempat membuatku ragu utnuk berangkat. Namun, rasa rindu untuk makan bersama mereka ternyata lebih deras daripada hujannya.

Pukul 3 sore hujan mulai reda. Akupun nekat berangkat tanpa memakai jas hujan. Dalam pikiranku, kalu hujan turun di tengah perjalanan, aku bisa berhenti sebentar untuk memakainya. Yang penting sampai di rumah Mbak Pal dulu, persoalan jadi makan di luar atau tidak, itu urusan belakangan.


Sejauh perjalanan aman tanpa hujan, tapiiiii... tinggal sedikit lagi sampai, hujan justru turun deras. Mau tidak mau aku harus berhenti mengenakan jas hujan. Jam setengah 4 akhirnya aku sampai di rumah Mbak Pal. Ternyata Mbak Yul sudah datang lebih dulu, terlihat sepeda motor yang terparkir di teras dengan jas hujan pink keunguan motif polkadot putih yang tergantung di spion dan setang sebelah kanan. Tanpa pikir panjang aku turun dari sepeda motor dan segera melepas jas hujan yang basah. Untung saja jas hujanku berbahan cepat kering, meski tetap rembes jika dipakai saat hujan deras.

Aku pun masuk ke dalam rumah Mbak Pal. Kali ini tidak ada sambutan gonggongan anjing Mbak Pal, Shocky. Aku sempat mencarinya karena merasa aneh dan ada yang kurang gitu, tumben Shocky tidak mengajakku baku hantam. Di dalam rumah terlihat Papi (suami Mbak Pal) sedang rebahan sambil menjaga bayi dugong. Mbak Yuli duduk lesehan bersandar ke tembok, sementara Mbak Pal tampak masih bersiap-siap.

Awalnya aku berfikir, kalau hujan belun reda, lebih baik pesan delivery GoPud saja. Namun, Mbak Pal tampaknya terlalu bersemangat untuk makan di luar. "ah.. tenang wae, nanti pas semua sudah siap hujane udah berhenti", katanya. Benar saja, hujan benar-benar reda. Kami pun segera berangkat menuju rumah makan Mie Jagoan yang lokasinya tidak jauh dari rumah Mbak Pal. Tidak sampai 5 menit, kami sudah tiba. Papi, Kay, dan Kak Keny menyusul kemudian.


Tempatnya didominasi warna merah dan hijau dengan latar tembok putih. Nuansa Chinese terasa cukup kuat, didukung dekorasi lukisan dinding bambu dengan siluet pria sedang melakukan gerakan kugfu menendang. Ada juga figura merah berisi foto aktor kungfu era 80-90an. Jujur aku kurang paham dengan konsep rumah makan ini.


Menu andalannya adalah mie yamin dan bihun. Aku pesan bihun ayam asin. Ternyata minumnya gratis!! Aku memilih teh tawar panas. Yang pertama tersaji adalah minumannya. Melihat gelas merah besar itu, aku langasung ternganga, "wow gede banget gelasnya, isinya pun full". Tehnya enak dengan aroma khas yang bikin penasaran. Aku nikmati pelan-pelan sambil menghangatkan tangan dengan menggenggam gelas teh panas.


Tak lama kemudian, menu utama datang dengan lengkap dengan pangsit gorengnya. Dan lagi-lagi kami mendapatkan bonus pangsit rebus, favoritku. Dari tampilannya sangat menggugah selera. Potongan ayamnya besar dan melimpah. Tapi sebelum ku menyentuh bihun itu, aku tergoda untuk mencicipi pangsit rebus dahulu. Aku ambil satu lalu mencelupkannya ke saus asin, dan... sumpah enak banget!! Aku langsung jatuh cinta. Saking sukanya aku sampai menghabiskan 2 pangsit rebus tanpa memikirkan berbagi dengan yang lain, wkkkkk. Bihun asinnya pun enak, berbeda dengan mie ayam kebanyakan yang dominan manis. Untuk pangsit gorengnya, sayangnya belum sesuai seleraku.




Di tengah menikmati makanan, Mbak Yuli terlihat kurang sehat. Perutnya tiba-tiba mual hingga ingin muntah. Kemungkinan besar ias keracunan makanan dari makan siang di kantin kantornya. Salah satu menu yang ia pilih adalah bekicot. Aku langsung menyalahkan bekicot itu, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Akhirnya Mbak Yuli memuntahkan racun-racun itu, dan kemudian kondisinya membaik. Meskipun begitu, selera makannya sudah hilang. Sisa pangsit goreng akhirnya dibungkus.

Tak lama kemudian, Papi, Kay, Dan Keny tiba dan langsung memesan makanan. Setelah mereka selesai makan, kami memutuskan untuk kembali ke rumah Mbak Pal. Btw sesuai janjiku, "it's all on me". Sesampainya di rumah Mbak Pal, kami langsung rebahan di ruang tengah, hingga entah bagaimanan topik pembicaraan beralih ke kebaya. Mbak Pla pun memamerkan koleksi kebayanya. Yaaa begitulah wanita, gak pernah habis soal perbincangan :D.


Sekitar jam setengah 8 malam, aku dan Mbak Yul pamit pulang. Meski tidak hujan, aku tetap mengenakan jas hujan untuk mengurangi dinginnya angin malam. Dalam perjalanan aku sempatin untuk mampir ke toko oleh-oleh. Tujuan utama tape ketan. Setelah beberapa kali muter toko, aku tidak menemukannya. Aku hampir menyerah dan memutuskan untuk membeli beberapa cemilan. Untungnya saat di kasir aku berinisiatif bertanya ke mbaknya stok tape ketan.Ternyata ada!. Aku langsung mengambil 2 cup ukuran 500ml. Akhirnya aku pulang dengan perasaan yang senang ^.^

Aku sempat merangkum momen ku ini di youtube channel-ku. Jika kamu ingin melihatnya, link menyusul ;)


Tuesday, December 23, 2025

DIAM-DIAM KUAT DI MEJA KELUARGA BESAR

Minggu, 21 Desember 2025

Ada momen dalam hidup ketika kedewasaan bukan tentang melakukan apa yang kita inginkan, tetapi tentang menahan diri demi sesuatu yang lebih besar. Ada hari-hari di mana harus memilih antara menjaga hati sendiri atau menjaga keaadaan. Dan hari itu, aku memilih yang kedua.

Aku diundang ke acara keluarga besar dari suamiku. Tapi ada satu sosok yang tidak ingin kutemui, bahkan melihat wajahnya saja aku merasa berat. Karena alasan itu aku memutuskan untuk tidak hadir, meski ada paksaan dan doraongan dari tante-tanteku.

Aku hampir bertahan dengan keputusan ku untuk tidak datang. Namun, ada satu alasan kuat yang kahirnya membuatku berubah pikiran. Alasan yang memaksaku menyingkirkan egoku, menelan perasaan, memilih untuk hadir, dan tetap terlihat baik-baik saja. Mu tidak mau!!

Dengan hati yang berat, aku melangkah. Memasuki rumah itu, lalu masuk di raung itu. Kuat-kuatin aja, kataku pada diri sendiri. Jangan terpancing emosi. Jangan sampai memperlihatkan luka yang sebenarnya belum sembuh.

Aku datang dengan senyum yang sengaja kupasang. Ramah, sopan, dan tenang. Padahal dibalik ekspresi itu ada rasa yang sudah mati. Ada luka yang memilih diam. Aku berusaha menjalani peran sebagai ponakan dan anak mantu yang baik, menjaga sikap, menjaga kata, dan menjaga hati agar tetap tenang. Syukurnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Tidak ada drama, tidak ada ledakan emosi. Aku melewatinya.

Dari situ aku belajar, bahwa mungkin inilah bentuk kedewasaan. Bukan selalu tentang bahagia dan nyaman, tapi juga tentang bertahan tanpa melukai siapa pun, termasuk diriku sendiri. Bukan juga soal persaan yang sembuh, tapi tentang kemampuan untuk mengendalikan diri.

That smile of mine was not for joy, but from endurance

Saturday, December 13, 2025

TINGGAL DI DESA BELAJAR MENGUATKAN BATIN

Minggu, 14 Desember 2025

Hai Gess...

Kali ini aku mau mengutarakan kekesalanku yang aku alami kemarin malam. Ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman. Bahkan sampai sekarang pun rasa itu masih membekas dan bikin pikiranku jadi ruwet sendiri.

Semuanya berawal dari kumpulan gotong royong, kumpulan bapak-bapak di desaku. Di sini, kehadiran diwajibkan per KK. Kalau tidak ada bapak atau sosok laki-laki, bisa diwakilkan oleh perempuan. Karena aku tinggal sendirian, mau tidak mau aku harus hadir. Oke, itu tidak menjadi masalah bagiku.

Aku datang dengan mood yang biasa saja, berjalan menuju rumah salah satu tetangga yang kebetulan dekat dari rumahku. Di jalan, sudah terlihat segerombolan lelaki baik bapak-bapak maupun remaja yang mewakili keluarganya menuju rumah yang sama dengan ku. Begitu aku masuk ke halaman rumah yang bertempatan, aku langsung disambut dengan pemilik rumah dan anak lelakinya sambil berkata, "mlebu kene wae" sambil menunjuk pintu masuk yang langsung ke area pawon. Dalam hati aku merasa janggal, tapi tentu saja tetap aku turuti.

Baru masuk pawon, suara pertama yang kudengar dari mulut seseorang, "lha wi Kaje teko, tak kiro lali". Lali?? Dalam hatiku bertanya keheranan. Kalau memang kamu tetangga yang baik, harusnya kalau kamu mengira aku lupa, kenapa tidak diingatkan? Kan ada HP, tinggal ketik aja melalui pesan WA, "jo lali ngko bengi kumpulan bapak-bapak lho yo". Bukannya malah membiarkan aku lupa!!. Dari situ dia sudah menunjukkan sifat aslinya. BULSHIT!!

Aku langsung duduk masih di area pawon. Baru saja nih bokong menyentuh amben, pemilik rumah perempuan menyodorkan pertanyaan. "we nompo bapak-bapak ra?". Awalnya aku tidak paham maksudnya. Setelah dijelaskan, ternyata menanyakan apakah rumahku bersedia menerima giliran kumpulan bapak-bapak. Spontan aku menjawab dengan nada sedikit keras, "yo terima tho!!". Katanya tadi bapak-bapak ramai menanyakan hal itu ke dia. Aku merasa kek ada kejanggalan, tapi aku berusaha untuk memenuhi dengan energi positif.

Masuk ke sesi istirahat, air minum dan makanan ringan mulai disajikan. Aku disuruhnya untuk membantu. Aku bantu sebisaku dan semampuku. Lalu terdengar suara yang membuat bad mood ku naik.

"Je, we ngko sing ater-ater yo"

Aku jawab, "gak mau, aku ngantuk"

Ditimpali, "yohleee.. sok we yen duwe gawe ra tak ewangi"

Nah, disitulah gongnya. Kalimat itu langsung bikin mood ku semakin down dan membuatku emosi yang dari sebelumnya kutahan, tak bisa kubendung lagi. Aku memilih kembali ke tempat dudukku diantara sang penyamun.

Belum calm down dari rasa kesal itu, aku harus menerima pembahasan lain yang berkaitan dengan rumahku. Katanya, pembangunan rumahku berdampak merusak jalan sekitar, dan belum ada saluran air. Warga desa ternyata sudah punya kesepakatan dengan pihak kontraktor yang aku sewa, tanpa sepengetahuanku mnegenai ganti rugi perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. Masalahnya, kontraktor itu sekarang 'kabur' dan tidak ada kejelasan yang pasti dengan warga. Dan tiba-tiba, tanggung jawab itu seolah-olah jatuh ke pundakku. Huuufft...

Dengan emosi yang sudah naik, aku berusaha keras menenangkan diri agar tidak meledak. Aku menjelaskan semuanya secara to the point kepada warga. Akhirnya, mereka menyimpulkan untuk menangguhkan masalah ini ke gotong royong atau kembali ke warga desa. Untuk sementara case ini sudah teratasi.

Di titik itu, aku merasa Sang Semesta memberi pencerahan: ternyata tidak semua tetanggaku bermulut dan berhati jahat. Ehhhh.. tapi, tiba-tiba aku juga berpikir, siapa tahu hati dan mulut mereka tidak sejalan.

Tinggal di lingkungan baru ini mengajarkanku satu hal: tidak semua yang ramah itu tulus, dan tidak semua yang diam itu jahat. Aku lebih memilih untuk menjaga batas, tidak ingin lelah tanpa alasan yang jelas. Tidak semua omongan perlu ditanggapi, kadang diam adalah perlindungan, bukan kelemahan.

Semoga semesta tetap menuntunku kepada orang-orang yang jujur hatinya, dan menjauhkan aku dari energi yang melelahkan tanpa sebab.

Friday, December 5, 2025

SEPORSI BAHAGIA BERNAMA TAPE KETAN

Hari ini aku bersemangat sekali untuk menulis. Sampai-sampai dua judul dalam sehari saking bahagianya aku. Karena akhirnya keinginanku kesampaian, makan tape ketan!!. Aku mendapatkannya dari besti aku, Mbak Palupi. Masih ingat kan ceritaku di postingan sebelumnya? Mbak Palupi sengaja membawakan tape ketan spesial untuk ku. Baik banget kan? Ahhh.. aku bersyukur sekali dikelilingi orang-orang baik seperti dia.

Keesokan harinya, aku sulap tape ketan itu menjadi wedang tape. Aku sengaja gak ngopi demi bisa menikmati wedang tape sepenuhnya. Begitu kotak tapenya kubuka, aku langsung ternganga. Wujudnya menggoda dan aroma khas tapenya semerbak memenuhi hidung. Tanpa pikir panjang, tangan ini otomatis meraih sendok, dan tinba-tiba ketan tape sudah mendarat manis di mulut. Aku seneng banget. Rasanya pas sesuai yang aku suka.

Biasanya tape ketan aku simpan di dalam kulkas sampai berair dan agak bersoda plus ada sedikit aroma alkoholnya. Ahhh.. menulis ini aja sudah membuatku kembali membayangkan rasanya. Nikmat sekaliiii ^.^. Rasanya ku ingin langsung pergi ke Salatiga sekarang juga untuk memborong tape ketan. Untung saja sekarang sedang hujan, dompetku aman -.-. Sayang sekali di sini aku belum menemukan tape ketan yang dikemas dengan wadah mika tebal itu. Atau besok Selasa aku main ke Salatiga aja ya?. Sekalian untuk beli skin care dan menikmati es krim Momoyo yang entah kapan belum kesampaian sampai sekarang. Hmmmm... gampanglah, bisa dipikirkan lagi ;).

Wedang tape sudah jadi. Aku gak sabar untuk segera menikmatinya. Pelan-pelan kutiup gelas yang berisi wedang tape itu supaya lebih hangat dan bisa langsung aku sruput tanpa membuat lidah terbakar. Dan lagi-lagi... aku kesenengan banget. Biarlah aku lebay kali ini yaa..?? Rasanya terlalu manis rupanya, tapi tak apa, tinggal kutambah air panas lagi, beres deh permasalahan kemanisan ini.

Seperti kebanyakan wanita ketika menemui makanan atau minuman dengan rasa yang enak, refleks seluruh badan langsung bergoyang. Pertanda nikmatnya luar biasa :D. Ketambahan cuaca di luar sedang hujan deras, menjadikan momen ini teramat pas. Hangatnya seperti memeluk, cocok sekali dengan dingin yang menusuk hingga ke kalbu paling dalam. Tengkyu Bestiii ^.^


Thursday, December 4, 2025

KETIKA BESTI DATANG, HUJAN DERAS, OBROLAN DERAS

Jumat, 5 Desember 2025

Selasa kemarin, Kediaman Kaaje kedatangan tamu istimewa. Besti pertamaku sejak menapakkan kaki di Lereng Merbabu, Mbak Palupi. Ia datang bersama keluarganya, Papi, Key, dan si Bayi Dugong. Ada satu lagi sahabatnya yang baru dikenalkan kepadaku setelah setahun kami bersahabat. Kami memang jarang bertemu. Tapi sekali ketemu.... boom!! Semua cerita yang disimpan di hati dan kepala langsung meledak jadi obrolan seru tanpa jeda. Seolah waktu itu mengecil jadi satu momen hangat yang penuh tawa, emosi, curhat, dan kejutan kecil yang bikin rindu lagi.

Aku merasa beruntung bisa berkawan dengan mereka. Meski kerjaan kami kalau kumpul cuma makan melulu. Tapi entah bagaimana, bersama mereka aku tetap bisa ngirit. Mungkin karena tawa dan cerita yang bikin kami semakin edan jauh lebih mengenyangkan dibanding pesanan di meja. Hampir setiap hari kami saling kirim reels di Instagram, kadang cuma buat lucu-lucuan karena otak kami memang gak waras. Kadang juga sekedar wacana, "eh besok kita ke sini yok" yang entah kesampaiannya kapan. Tapi belakangan ini aku sering melewatkan pertemuan kami. Waktu mereka ajak seru-seruan di Taman Bermain Saloka, aku batal ikut karena kondisi kesehatanku lagi nggak oke. Lalu saat kami sudah janjian makan di resto viral di Salatiga, aku pun gagal hadir karena si Om Lelaki Surga kebetulan pas waktunya pulang. Rasanya tu gemesh banget. Mau ikut, tapi selalu ada yang menghalangi. Seakan semesta lagi iseng menunda-nunda momen kami buat heboh bareng lagi.

Biasanya kami selalu ngumpul di rumah Mbak Palupi, sekarang berbeda. Giliran mereka datang berkunjung nengok Kediaman Kaje sekaligus sang Merbabu. Ini pertama kalinya mereka datang. Sayangnya, saat mereka sampai, langit Lereng Merbabu menyambut dengan hujan deras. Untungnya mereka naik mobil, aku sempat khawatir membayangkan mereka harus menanjak dengan sepeda motor di tengah udara dingin dan hujan seganas itu. Aku menyambut dengan payung pink kebanggaan Queen Kediaman Kaje. Satu per satu kupayungi mereka dari carport sampai teras, dan rasanya... I am so happy with them as my visitors.

Begitu masuk rumah, kusambut mereka dengan cemilan yang sudah kusiapkan sebalumnya. Yaaaa... cuma yang ada di rumah saja. Lalu aku tawari mereka dengan tahu bakso dan sosis mayo yang kugoreng dadakan. Momen seperti ini yang membuatku tidak pernah menyesal mendesain Kediaman Kaje dengan konsep open space, di mana begitu masuk rumah langsung terlihat dapur. Aku bisa tetap memasak sambil ngobrol bebas dengan mereka. Nyaman dan terasa hidup. Dan yang bikin aku semakin senang, ternyata Mbak Palupi sepemikaran dengan ku soal dapur yang menyatu dengan ruang keluarga. Mungkin kesamaan-kesamaan kecil seperti inilah yang membuat kami dekat dan jadi bestian sampai sekarang, yaaaa meskipun baru 3 tahun kami bestian. Wah gak terasa, ternyata aku sudah 3 tahun tinggal di Lereng Gunung, 2,5 tahun di rumah mertua, setengah tahunnya di Kediaman Kaje.

Si Papi udah berasa Bos tuh 😏

Setelah puas dengan cemilan, akhirnya kami lanjut makan besar. Menu yang kusuguhkan sederhana banget, ayam krispi satu ekor dari Rocket Chicken, lalapan daun pepaya yang ternyata mbak Palupi gak suka pahitnya, dan juga lalapan labu siam. Bukan hasil dari masakanku sendiri, karena ahhhh... you know so well kan yaaa... aku gak suka masak. Tapi sebenernya ada niatku untuk masak loh. Sudah kutulis di notes mau masak menu apa saja. Tapi niat itu langsung dimentahkan oleh Om Lelaki Surga,

"Udahlah gak usah masak. Belikan aja ayam krispi satu ekor itu, tinggal masak nasi. Beres kan? Gak perlu ribet".

Mendengar itu, aku langsung bahagia donk. Oke deh beli ajah :D.

Kami pun makan dengan lahap, ditemani hujan gerimis dan udara dingin. Dalam hatiku sempat berfikir, wah enaknya kalau makan yang berkuah. Next time deh kalo mereka datang lagi, janji deh bakal masak. Semoga niat memasakku makin menyala, Semesta, titip energi positifnya donk ;).

Setelah makan, aku baru tersadar satu hal, mereka mencuci piring masing-masing. Duh, sudah lama aku tidak kedatangan tamu yang tahu diri begini, LOL. Bahkan keluarga besarku sendiri pun belum tentu se-tahu diri begini. Upppsss sorry... yang merasa keluarga besarku, aku sindir kalian lewat tulisan ini, :D.


Seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya, setelah perut kenyang... terbitlah ritual pamit, wkkkk. Tapi sebelum benar-benar pulang, kami sempat foto bersama, dan mereka pun menyempatkan untuk mengambil foto dengan Merbabu meski yang terlihat hanya bayang-bayangnya setelah hujan reda. Tetap estetik kog ala-ala siluet pegunungan. Dan akhirnya, mereka mengucap "good bye". Langitpun seolah ikut berterimakasih, menghadiahi dengan udara dingin tanpa hujan sebagai penutup yang manis.

Terimakasih Gesss atas kunjungannya. Semoga gak kapok yaaaa. Next kita rujakan dan makan siang bareng, gimana?

EMPAT HARI DAN SISA RINDU

17 February 2026 Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat har...