Digital diary berisi momen, dan refleksi sehari-hari. Ditulis sederhana namun penuh makna. Selamat datang di Kediaman Kaje ^_^
Wednesday, December 24, 2025
BESTI DAN HAL-HAL SEDERHANA
Tuesday, December 23, 2025
DIAM-DIAM KUAT DI MEJA KELUARGA BESAR
Saturday, December 13, 2025
TINGGAL DI DESA BELAJAR MENGUATKAN BATIN
Minggu, 14 Desember 2025
Hai Gess...
Kali ini aku mau mengutarakan kekesalanku yang aku alami kemarin malam. Ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman. Bahkan sampai sekarang pun rasa itu masih membekas dan bikin pikiranku jadi ruwet sendiri.
Semuanya berawal dari kumpulan gotong royong, kumpulan bapak-bapak di desaku. Di sini, kehadiran diwajibkan per KK. Kalau tidak ada bapak atau sosok laki-laki, bisa diwakilkan oleh perempuan. Karena aku tinggal sendirian, mau tidak mau aku harus hadir. Oke, itu tidak menjadi masalah bagiku.
Aku datang dengan mood yang biasa saja, berjalan menuju rumah salah satu tetangga yang kebetulan dekat dari rumahku. Di jalan, sudah terlihat segerombolan lelaki baik bapak-bapak maupun remaja yang mewakili keluarganya menuju rumah yang sama dengan ku. Begitu aku masuk ke halaman rumah yang bertempatan, aku langsung disambut dengan pemilik rumah dan anak lelakinya sambil berkata, "mlebu kene wae" sambil menunjuk pintu masuk yang langsung ke area pawon. Dalam hati aku merasa janggal, tapi tentu saja tetap aku turuti.
Baru masuk pawon, suara pertama yang kudengar dari mulut seseorang, "lha wi Kaje teko, tak kiro lali". Lali?? Dalam hatiku bertanya keheranan. Kalau memang kamu tetangga yang baik, harusnya kalau kamu mengira aku lupa, kenapa tidak diingatkan? Kan ada HP, tinggal ketik aja melalui pesan WA, "jo lali ngko bengi kumpulan bapak-bapak lho yo". Bukannya malah membiarkan aku lupa!!. Dari situ dia sudah menunjukkan sifat aslinya. BULSHIT!!
Aku langsung duduk masih di area pawon. Baru saja nih bokong menyentuh amben, pemilik rumah perempuan menyodorkan pertanyaan. "we nompo bapak-bapak ra?". Awalnya aku tidak paham maksudnya. Setelah dijelaskan, ternyata menanyakan apakah rumahku bersedia menerima giliran kumpulan bapak-bapak. Spontan aku menjawab dengan nada sedikit keras, "yo terima tho!!". Katanya tadi bapak-bapak ramai menanyakan hal itu ke dia. Aku merasa kek ada kejanggalan, tapi aku berusaha untuk memenuhi dengan energi positif.
Masuk ke sesi istirahat, air minum dan makanan ringan mulai disajikan. Aku disuruhnya untuk membantu. Aku bantu sebisaku dan semampuku. Lalu terdengar suara yang membuat bad mood ku naik.
"Je, we ngko sing ater-ater yo"
Aku jawab, "gak mau, aku ngantuk"
Ditimpali, "yohleee.. sok we yen duwe gawe ra tak ewangi"
Nah, disitulah gongnya. Kalimat itu langsung bikin mood ku semakin down dan membuatku emosi yang dari sebelumnya kutahan, tak bisa kubendung lagi. Aku memilih kembali ke tempat dudukku diantara sang penyamun.
Belum calm down dari rasa kesal itu, aku harus menerima pembahasan lain yang berkaitan dengan rumahku. Katanya, pembangunan rumahku berdampak merusak jalan sekitar, dan belum ada saluran air. Warga desa ternyata sudah punya kesepakatan dengan pihak kontraktor yang aku sewa, tanpa sepengetahuanku mnegenai ganti rugi perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. Masalahnya, kontraktor itu sekarang 'kabur' dan tidak ada kejelasan yang pasti dengan warga. Dan tiba-tiba, tanggung jawab itu seolah-olah jatuh ke pundakku. Huuufft...
Dengan emosi yang sudah naik, aku berusaha keras menenangkan diri agar tidak meledak. Aku menjelaskan semuanya secara to the point kepada warga. Akhirnya, mereka menyimpulkan untuk menangguhkan masalah ini ke gotong royong atau kembali ke warga desa. Untuk sementara case ini sudah teratasi.
Di titik itu, aku merasa Sang Semesta memberi pencerahan: ternyata tidak semua tetanggaku bermulut dan berhati jahat. Ehhhh.. tapi, tiba-tiba aku juga berpikir, siapa tahu hati dan mulut mereka tidak sejalan.
Tinggal di lingkungan baru ini mengajarkanku satu hal: tidak semua yang ramah itu tulus, dan tidak semua yang diam itu jahat. Aku lebih memilih untuk menjaga batas, tidak ingin lelah tanpa alasan yang jelas. Tidak semua omongan perlu ditanggapi, kadang diam adalah perlindungan, bukan kelemahan.
Semoga semesta tetap menuntunku kepada orang-orang yang jujur hatinya, dan menjauhkan aku dari energi yang melelahkan tanpa sebab.
Friday, December 5, 2025
SEPORSI BAHAGIA BERNAMA TAPE KETAN
Hari ini aku bersemangat sekali untuk menulis. Sampai-sampai dua judul dalam sehari saking bahagianya aku. Karena akhirnya keinginanku kesampaian, makan tape ketan!!. Aku mendapatkannya dari besti aku, Mbak Palupi. Masih ingat kan ceritaku di postingan sebelumnya? Mbak Palupi sengaja membawakan tape ketan spesial untuk ku. Baik banget kan? Ahhh.. aku bersyukur sekali dikelilingi orang-orang baik seperti dia.
Keesokan harinya, aku sulap tape ketan itu menjadi wedang tape. Aku sengaja gak ngopi demi bisa menikmati wedang tape sepenuhnya. Begitu kotak tapenya kubuka, aku langsung ternganga. Wujudnya menggoda dan aroma khas tapenya semerbak memenuhi hidung. Tanpa pikir panjang, tangan ini otomatis meraih sendok, dan tinba-tiba ketan tape sudah mendarat manis di mulut. Aku seneng banget. Rasanya pas sesuai yang aku suka.
Biasanya tape ketan aku simpan di dalam kulkas sampai berair dan agak bersoda plus ada sedikit aroma alkoholnya. Ahhh.. menulis ini aja sudah membuatku kembali membayangkan rasanya. Nikmat sekaliiii ^.^. Rasanya ku ingin langsung pergi ke Salatiga sekarang juga untuk memborong tape ketan. Untung saja sekarang sedang hujan, dompetku aman -.-. Sayang sekali di sini aku belum menemukan tape ketan yang dikemas dengan wadah mika tebal itu. Atau besok Selasa aku main ke Salatiga aja ya?. Sekalian untuk beli skin care dan menikmati es krim Momoyo yang entah kapan belum kesampaian sampai sekarang. Hmmmm... gampanglah, bisa dipikirkan lagi ;).
Wedang tape sudah jadi. Aku gak sabar untuk segera menikmatinya. Pelan-pelan kutiup gelas yang berisi wedang tape itu supaya lebih hangat dan bisa langsung aku sruput tanpa membuat lidah terbakar. Dan lagi-lagi... aku kesenengan banget. Biarlah aku lebay kali ini yaa..?? Rasanya terlalu manis rupanya, tapi tak apa, tinggal kutambah air panas lagi, beres deh permasalahan kemanisan ini.
Seperti kebanyakan wanita ketika menemui makanan atau minuman dengan rasa yang enak, refleks seluruh badan langsung bergoyang. Pertanda nikmatnya luar biasa :D. Ketambahan cuaca di luar sedang hujan deras, menjadikan momen ini teramat pas. Hangatnya seperti memeluk, cocok sekali dengan dingin yang menusuk hingga ke kalbu paling dalam. Tengkyu Bestiii ^.^
Thursday, December 4, 2025
KETIKA BESTI DATANG, HUJAN DERAS, OBROLAN DERAS
Jumat, 5 Desember 2025
Selasa kemarin, Kediaman Kaaje kedatangan tamu istimewa. Besti pertamaku sejak menapakkan kaki di Lereng Merbabu, Mbak Palupi. Ia datang bersama keluarganya, Papi, Key, dan si Bayi Dugong. Ada satu lagi sahabatnya yang baru dikenalkan kepadaku setelah setahun kami bersahabat. Kami memang jarang bertemu. Tapi sekali ketemu.... boom!! Semua cerita yang disimpan di hati dan kepala langsung meledak jadi obrolan seru tanpa jeda. Seolah waktu itu mengecil jadi satu momen hangat yang penuh tawa, emosi, curhat, dan kejutan kecil yang bikin rindu lagi.
Aku merasa beruntung bisa berkawan dengan mereka. Meski kerjaan kami kalau kumpul cuma makan melulu. Tapi entah bagaimana, bersama mereka aku tetap bisa ngirit. Mungkin karena tawa dan cerita yang bikin kami semakin edan jauh lebih mengenyangkan dibanding pesanan di meja. Hampir setiap hari kami saling kirim reels di Instagram, kadang cuma buat lucu-lucuan karena otak kami memang gak waras. Kadang juga sekedar wacana, "eh besok kita ke sini yok" yang entah kesampaiannya kapan. Tapi belakangan ini aku sering melewatkan pertemuan kami. Waktu mereka ajak seru-seruan di Taman Bermain Saloka, aku batal ikut karena kondisi kesehatanku lagi nggak oke. Lalu saat kami sudah janjian makan di resto viral di Salatiga, aku pun gagal hadir karena si Om Lelaki Surga kebetulan pas waktunya pulang. Rasanya tu gemesh banget. Mau ikut, tapi selalu ada yang menghalangi. Seakan semesta lagi iseng menunda-nunda momen kami buat heboh bareng lagi.
Biasanya kami selalu ngumpul di rumah Mbak Palupi, sekarang berbeda. Giliran mereka datang berkunjung nengok Kediaman Kaje sekaligus sang Merbabu. Ini pertama kalinya mereka datang. Sayangnya, saat mereka sampai, langit Lereng Merbabu menyambut dengan hujan deras. Untungnya mereka naik mobil, aku sempat khawatir membayangkan mereka harus menanjak dengan sepeda motor di tengah udara dingin dan hujan seganas itu. Aku menyambut dengan payung pink kebanggaan Queen Kediaman Kaje. Satu per satu kupayungi mereka dari carport sampai teras, dan rasanya... I am so happy with them as my visitors.
Begitu masuk rumah, kusambut mereka dengan cemilan yang sudah kusiapkan sebalumnya. Yaaaa... cuma yang ada di rumah saja. Lalu aku tawari mereka dengan tahu bakso dan sosis mayo yang kugoreng dadakan. Momen seperti ini yang membuatku tidak pernah menyesal mendesain Kediaman Kaje dengan konsep open space, di mana begitu masuk rumah langsung terlihat dapur. Aku bisa tetap memasak sambil ngobrol bebas dengan mereka. Nyaman dan terasa hidup. Dan yang bikin aku semakin senang, ternyata Mbak Palupi sepemikaran dengan ku soal dapur yang menyatu dengan ruang keluarga. Mungkin kesamaan-kesamaan kecil seperti inilah yang membuat kami dekat dan jadi bestian sampai sekarang, yaaaa meskipun baru 3 tahun kami bestian. Wah gak terasa, ternyata aku sudah 3 tahun tinggal di Lereng Gunung, 2,5 tahun di rumah mertua, setengah tahunnya di Kediaman Kaje.
Setelah puas dengan cemilan, akhirnya kami lanjut makan besar. Menu yang kusuguhkan sederhana banget, ayam krispi satu ekor dari Rocket Chicken, lalapan daun pepaya yang ternyata mbak Palupi gak suka pahitnya, dan juga lalapan labu siam. Bukan hasil dari masakanku sendiri, karena ahhhh... you know so well kan yaaa... aku gak suka masak. Tapi sebenernya ada niatku untuk masak loh. Sudah kutulis di notes mau masak menu apa saja. Tapi niat itu langsung dimentahkan oleh Om Lelaki Surga,
"Udahlah gak usah masak. Belikan aja ayam krispi satu ekor itu, tinggal masak nasi. Beres kan? Gak perlu ribet".
Mendengar itu, aku langsung bahagia donk. Oke deh beli ajah :D.
Kami pun makan dengan lahap, ditemani hujan gerimis dan udara dingin. Dalam hatiku sempat berfikir, wah enaknya kalau makan yang berkuah. Next time deh kalo mereka datang lagi, janji deh bakal masak. Semoga niat memasakku makin menyala, Semesta, titip energi positifnya donk ;).
Setelah makan, aku baru tersadar satu hal, mereka mencuci piring masing-masing. Duh, sudah lama aku tidak kedatangan tamu yang tahu diri begini, LOL. Bahkan keluarga besarku sendiri pun belum tentu se-tahu diri begini. Upppsss sorry... yang merasa keluarga besarku, aku sindir kalian lewat tulisan ini, :D.
Seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya, setelah perut kenyang... terbitlah ritual pamit, wkkkk. Tapi sebelum benar-benar pulang, kami sempat foto bersama, dan mereka pun menyempatkan untuk mengambil foto dengan Merbabu meski yang terlihat hanya bayang-bayangnya setelah hujan reda. Tetap estetik kog ala-ala siluet pegunungan. Dan akhirnya, mereka mengucap "good bye". Langitpun seolah ikut berterimakasih, menghadiahi dengan udara dingin tanpa hujan sebagai penutup yang manis.
Terimakasih Gesss atas kunjungannya. Semoga gak kapok yaaaa. Next kita rujakan dan makan siang bareng, gimana?
EMPAT HARI DAN SISA RINDU
17 February 2026 Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat har...
-
Jumat, 21 November 2025 Kamis kemaren, ada beberapa momen yang aku alami, mulai dari alergi yang tiba-tiba kambuh, jenguk teman yang katanya...
-
Minggu, 14 Desember 2025 Hai Gess... Kali ini aku mau mengutarakan kekesalanku yang aku alami kemarin malam. Ada beberapa hal yang membuatku...
-
Rabu, 19 November 2025 Hari ini, aku memutuskan untuk membuat blog lagi. Lagi?? Ya, karena sebelumnya aku sudah pernah punya dua blog. Sayan...























