Minggu, 14 Desember 2025
Hai Gess...
Kali ini aku mau mengutarakan kekesalanku yang aku alami kemarin malam. Ada beberapa hal yang membuatku tidak nyaman. Bahkan sampai sekarang pun rasa itu masih membekas dan bikin pikiranku jadi ruwet sendiri.
Semuanya berawal dari kumpulan gotong royong, kumpulan bapak-bapak di desaku. Di sini, kehadiran diwajibkan per KK. Kalau tidak ada bapak atau sosok laki-laki, bisa diwakilkan oleh perempuan. Karena aku tinggal sendirian, mau tidak mau aku harus hadir. Oke, itu tidak menjadi masalah bagiku.
Aku datang dengan mood yang biasa saja, berjalan menuju rumah salah satu tetangga yang kebetulan dekat dari rumahku. Di jalan, sudah terlihat segerombolan lelaki baik bapak-bapak maupun remaja yang mewakili keluarganya menuju rumah yang sama dengan ku. Begitu aku masuk ke halaman rumah yang bertempatan, aku langsung disambut dengan pemilik rumah dan anak lelakinya sambil berkata, "mlebu kene wae" sambil menunjuk pintu masuk yang langsung ke area pawon. Dalam hati aku merasa janggal, tapi tentu saja tetap aku turuti.
Baru masuk pawon, suara pertama yang kudengar dari mulut seseorang, "lha wi Kaje teko, tak kiro lali". Lali?? Dalam hatiku bertanya keheranan. Kalau memang kamu tetangga yang baik, harusnya kalau kamu mengira aku lupa, kenapa tidak diingatkan? Kan ada HP, tinggal ketik aja melalui pesan WA, "jo lali ngko bengi kumpulan bapak-bapak lho yo". Bukannya malah membiarkan aku lupa!!. Dari situ dia sudah menunjukkan sifat aslinya. BULSHIT!!
Aku langsung duduk masih di area pawon. Baru saja nih bokong menyentuh amben, pemilik rumah perempuan menyodorkan pertanyaan. "we nompo bapak-bapak ra?". Awalnya aku tidak paham maksudnya. Setelah dijelaskan, ternyata menanyakan apakah rumahku bersedia menerima giliran kumpulan bapak-bapak. Spontan aku menjawab dengan nada sedikit keras, "yo terima tho!!". Katanya tadi bapak-bapak ramai menanyakan hal itu ke dia. Aku merasa kek ada kejanggalan, tapi aku berusaha untuk memenuhi dengan energi positif.
Masuk ke sesi istirahat, air minum dan makanan ringan mulai disajikan. Aku disuruhnya untuk membantu. Aku bantu sebisaku dan semampuku. Lalu terdengar suara yang membuat bad mood ku naik.
"Je, we ngko sing ater-ater yo"
Aku jawab, "gak mau, aku ngantuk"
Ditimpali, "yohleee.. sok we yen duwe gawe ra tak ewangi"
Nah, disitulah gongnya. Kalimat itu langsung bikin mood ku semakin down dan membuatku emosi yang dari sebelumnya kutahan, tak bisa kubendung lagi. Aku memilih kembali ke tempat dudukku diantara sang penyamun.
Belum calm down dari rasa kesal itu, aku harus menerima pembahasan lain yang berkaitan dengan rumahku. Katanya, pembangunan rumahku berdampak merusak jalan sekitar, dan belum ada saluran air. Warga desa ternyata sudah punya kesepakatan dengan pihak kontraktor yang aku sewa, tanpa sepengetahuanku mnegenai ganti rugi perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. Masalahnya, kontraktor itu sekarang 'kabur' dan tidak ada kejelasan yang pasti dengan warga. Dan tiba-tiba, tanggung jawab itu seolah-olah jatuh ke pundakku. Huuufft...
Dengan emosi yang sudah naik, aku berusaha keras menenangkan diri agar tidak meledak. Aku menjelaskan semuanya secara to the point kepada warga. Akhirnya, mereka menyimpulkan untuk menangguhkan masalah ini ke gotong royong atau kembali ke warga desa. Untuk sementara case ini sudah teratasi.
Di titik itu, aku merasa Sang Semesta memberi pencerahan: ternyata tidak semua tetanggaku bermulut dan berhati jahat. Ehhhh.. tapi, tiba-tiba aku juga berpikir, siapa tahu hati dan mulut mereka tidak sejalan.
Tinggal di lingkungan baru ini mengajarkanku satu hal: tidak semua yang ramah itu tulus, dan tidak semua yang diam itu jahat. Aku lebih memilih untuk menjaga batas, tidak ingin lelah tanpa alasan yang jelas. Tidak semua omongan perlu ditanggapi, kadang diam adalah perlindungan, bukan kelemahan.
Semoga semesta tetap menuntunku kepada orang-orang yang jujur hatinya, dan menjauhkan aku dari energi yang melelahkan tanpa sebab.




No comments:
Post a Comment