Minggu, 21 Desember 2025
Ada momen dalam hidup ketika kedewasaan bukan tentang melakukan apa yang kita inginkan, tetapi tentang menahan diri demi sesuatu yang lebih besar. Ada hari-hari di mana harus memilih antara menjaga hati sendiri atau menjaga keaadaan. Dan hari itu, aku memilih yang kedua.
Aku diundang ke acara keluarga besar dari suamiku. Tapi ada satu sosok yang tidak ingin kutemui, bahkan melihat wajahnya saja aku merasa berat. Karena alasan itu aku memutuskan untuk tidak hadir, meski ada paksaan dan doraongan dari tante-tanteku.
Aku hampir bertahan dengan keputusan ku untuk tidak datang. Namun, ada satu alasan kuat yang kahirnya membuatku berubah pikiran. Alasan yang memaksaku menyingkirkan egoku, menelan perasaan, memilih untuk hadir, dan tetap terlihat baik-baik saja. Mu tidak mau!!
Dengan hati yang berat, aku melangkah. Memasuki rumah itu, lalu masuk di raung itu. Kuat-kuatin aja, kataku pada diri sendiri. Jangan terpancing emosi. Jangan sampai memperlihatkan luka yang sebenarnya belum sembuh.
Aku datang dengan senyum yang sengaja kupasang. Ramah, sopan, dan tenang. Padahal dibalik ekspresi itu ada rasa yang sudah mati. Ada luka yang memilih diam. Aku berusaha menjalani peran sebagai ponakan dan anak mantu yang baik, menjaga sikap, menjaga kata, dan menjaga hati agar tetap tenang. Syukurnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Tidak ada drama, tidak ada ledakan emosi. Aku melewatinya.
Dari situ aku belajar, bahwa mungkin inilah bentuk kedewasaan. Bukan selalu tentang bahagia dan nyaman, tapi juga tentang bertahan tanpa melukai siapa pun, termasuk diriku sendiri. Bukan juga soal persaan yang sembuh, tapi tentang kemampuan untuk mengendalikan diri.
That smile of mine was not for joy, but from endurance

No comments:
Post a Comment