Tuesday, February 17, 2026

EMPAT HARI DAN SISA RINDU

17 February 2026

Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat hari kami bersama. Waktu bersama itu terasa seperti oase. Melaluinya dengan penuh kerinduan yang mendalam. Saat bersama terasa begitu utuh. Hari ini, dia pergi ke kota perantauan meninggalkanku sendiri di rumah yang kusebut Kediaman Kaje. Kembali pada jarak dan sepi yang berbeda. Kerinduanku belum tuntas, ingin ku menghabiskan waktu bersamanya lebih lama. Cinta memang tidak pernah merasa cukup dengan kata sebentar. Aku masih berharap kabar gembira dari Bos Besar itu supaya mengijinkan kami untuk bersama, menua bersama di Kota dan rumah yang kami impikan.

Dulu, begitu mudah kami meluangkan hidup bersama. Sekarang waktu itu sangat berharga bagi kami. Ahhhh… begini yang dimaksud hidup tanpa yang terkasih di sisiku, yang selalu menemaniku setiap harinya. Aku baru paham arti kehadiran seseorang yang benar-benar berarti. Wajar saja jika ada seseorang yang tidak bisa hidup tanpa pasangan.

Aku mengerti berharganya satu sama lain. Saling menjaga, bersama, saling memberi dan menerima. Meski rasa kecewa, marah, sebal, jengkel sesekali hadir di tengah kami. Begitulah dinamika, terkadang memang menyakitkan.

Semoga semesta segera menyatukan kami. Dan sampai hari itu tiba, semoga hatiku tetap hangat, meski dikemudian hari kembali dengan kesendirianku.

Tuesday, February 3, 2026

AKU PINDAH DI DESA, INI YANG TERJADI

"Yakin mau pindah di desa? Di desa tu orang-orangnya resek loh"

Mendengar cerita dari orang lain apalagi cerita negatif itu gampang nyelip di kepala, meski kita belum ngalamin sendiri.

Sebelum pindah di Lereng Merbabu, aku sering sekali mendengarkan kisah yang tidak mengenakkan tentang hidup di desa dari beberapa temanku yang sudah tinggal di desa. Aku khawatir, takut ceritaku nanti akan berakhir sama (T.T). tapi aku berusa tetap untuk berfikiran positif. Dimanapun kita berada pasti ada pro dan kontranya. Tergantung sudut pandang dan bagaimana cara kita menyikapinya.

Saat membangun Kediaman Kaje, aku sempat dimanfaatkan oleh calon tetanggaku. Sebagai pendatang, aku harus membayar biaya sebagai warga baru yang bagiku nominalnya sangat besar dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Kalau di desa lain 1 juta itu sadah nominal tertinggi, tidak bagi di desa Kediaman Kaje dibangun. 5 kali lipatnya dari nominal tertinggi di desa lain. Aku merasa dirampok. Mentang-mentang aku dari kota. Seperti aji mumpung gitu.

Aku tidak sepenuhnya mengerti, nominal sebesar itu untuk apa aja. Pernah di kasih hitam di atas putih, tapi aku lupa. Seingatku masih kusimpan di rumah Bintaro. Sudah pernah dijelaskan oleh Pak RT, Ketua Gotong Royong, dan Tokoh Masyarakat. Tapi aku tidak mengerti karena keterbatasan bahasa Jawa yang aku pahami. Bahasa Jawa mereka terlalu halus untuk telingaku yang Jowo kasar.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai paham. Ternyata bukan aku saja yang dikenakan biaya mahal itu. Warga asli pun juga dikenakan biaya juga jika mereka membangun rumah sendiri. Ini biasanya bagi anak keturunan warga asli yang sudah menikah dan membangun rumah sendiri di desa ini. Ternyata biaya besar itu sudah menjadi aturan mutlak di dusun ini, tidak hanya pendatang tapi juga berlaku utnuk warga asli. Sistem pembayarannya pun lebih manusiawi, bisa dicicil semampunya dalam waktu tak terhingga.

Di fase itu, ceritanya berubah, bukan lagi dimanfaatkan tapi ritual sosial masuk komunitas, yang terasa tidak wajar di awal bagi orang luar.

Belum lama pindah aku sudah mendengar kesaksian dari beberapa tetanggaku untuk waspada terhadap tetangga lain yang mereka sebutkan. Terutama mereka yang sempat mengambil tanpa ijin bahan-bahan bangunanku saat Kediaman Kaje proses dibangun. Besi, pralon, linggis, bahkan lampu pun pernah hilang 2x. Dan mungkin ini salah satu penyebab kurangnya kualitas Kediaman Kaje.

Duniaku menjadi abu-abu, belum hitan, belum putih. Refleks di pikiranku adalah waspada ke semua arah, semua tetanggaku tanpa terkecuali. Tentu saja aku tidak menutup diri sepenuhnya, aku cuma memperlambat membuka kepercayaan.

Waktu pun berjalan. Hampir 9 bulan aku tinggal di sini di tengah mereka. Waktu yang masih dibilang seumur jagung untuk menyingkap topeng. Baik topeng orang lain maupun topeng ketakutanku sendiri. Saat ini yang kutemukan bukan 'tetangga resek' seperti yang diceritakan teman-temanku terdahulu, tapi manusia-manusia biasa yang hidup bersama.

Tidak ada yang terlalu diagungkan, tidak ada yang dikecilkan. Anak-anak punya ruang, remaja punya suara, orang tua punya tempat. Semua seimbang di posisinya. Hal seperti itu mahal nilainya. Kalaupun ada yang resek, wajar lah ya. Hidup tidak pernah steril dari gesekan.

Rezeki bukanlah soal angka di atas kertas mata uang, tapi kesesuaian hidup. Antara diri kita, alam, dan ritme sehari-hari.

Di lereng Merbabu lagi-lagi aku belajar untuk hidup berdampingan dan menerima ketidak sempurnaan dengan lapang. Semoga kenyamanan ku tinggal di sini bukan karena aku warga baru, dan semoga rasa syukur ini tidak membeku, tapi terus hangat seperti kopi pagi. Disruput pelan, sambil memandang hidup yang akhirnya terasa pas.

Tuesday, January 27, 2026

DUA HARI DUA MALAM TANPA LISTRIK, DAN ANGIN YANG MENGUJI KEPALA

Jumat, 23 Januari 2026

Sepulang dari gym sekitar pukul 1 atau 2 siang, hujan turun, dan listrik sudah padam. Hari itu berjalan biasa saja, sampai matahari tenggelam.

Begitu malam datang, angin berhembus sangat kencang. Suaranya riuh memenuhi telinga dan tanpa henti. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Bukan semata karena hawa dingin yang masuk dari sela-sela atap rumah tanpa plafon, tapi karena suara angin yang terus mengamuk, memancing pikiran-pikiran negatif di kepalaku.

Aku menatap atap rumah, memastikan tak ada yang terhempas atau tampak mencurigakan. Sedikit lega, tak kutemukan apapun. Tapi pikiran ini tak bisa berhenti. Aku mulai membayangkan angin mengangkat batu-batu split di taman kering. Imajinasiku semakin liar ketika di balik jendela tidak terlihat apa-apa, gelap, kecuali langit. 

Aku benar-benar tak bisa tidur!!

Merasa keadaan kian memburuk, angin semakin kencang, dan suarapun semakin riuh. Aku berpindah dari kamar tidur atas, ke ruang TV di lantai bawah. Suara angin masih terdengar tapi sedikit lebih pelan ketimbang saat aku di lantai atas. Pikiranku kembali bekerja. Bagaimana dengan kanopi taman tengah yang beru terpasang 3 minggu yang lalu? Apakah cukup kokoh? Bagaimana jika satu per satu terlepas dan merusak rumah tetangga? WADUH!!

Lalu pikiranku beralih ke pintu kaca lipat. Dari dalam, pintu itu tampak seperti ditarik keluar oleh angin. Aku membayangkan kaca pecah. Aaaarghh... kepalaku isinya liar semua!!. Kekhawatiran datang bertubi-tubi, sementara aku tak bisa melihat kondisi luar dengan jelas dari balik pintu kaca atau jendela.


Di tengah gelap aku mencoba tenang. Baterai HP lama tersisa 40%, sedangkan IPhone 30%. Melihat lilin yang semakin pendek mengkhawatirkanku akan tidak adanya penerangan sama sekali jika baterai pun ikut habis. Terbenak di kepalaku untuk mengisi daya lewat motor Scoopy aku, si Keong. Tak apa aki tekor, yang penting ada penerangan meski lewat flash HP sudah sangat membantu. Sempat naik ke angka 63%, "lumayan" dalam hatiku. Tapi benar saja, aki Keong tekor. Esoknya langsung menuju rumah tetangga untuk ngecharge aki. Tetap saja harus menunggu listrik nyala dulu. Tak apa, toh dengan angin sekencang ini aku mau kemana? Jalan dengan membawa badanku sendiri aja hampir terjatuh karena terhempas oleh angin kencang itu.

Selanjutnya, aku pasrah. Dengan modal HP lama yang terisi 63% itu, harus aku hemat-hemat sampai listrik kembali menyala normal. Paket data, wifi aku non aktifkan supaya demi mengirit daya. Setidaknya aku sudah memberi kebar ke Om Lelaki Surga.

Sedikit lega kurasakan saat matahari bersinar. Dari jendela lantai atas, aku memantau keadaan sekitar rumahku, tampak aman-aman saja. Warga Desa tetap beraktivitas seperti hari biasa. Mengarit, mencari kayu bakar, bahkan bergosip di depan warung dengan rambut dan pakaian yang terombang ambing angin. Ternyata level bertahan hidup orang desa itu luar biasaaa!! SALUT dah!!.

Tantangan berikutnya adalah air. Air PAM Swadaya Desa mengalir dengan lancar. Tapi tanpa adanya listrik, air dari tampungan tandon bawah tidak bisa mengalir sampai tandon atas. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengambil air secara manual dengan gayung dan 2 ember kecil, untuk keperluan mandi dan cuci mencuci. Sedangkan air konsumsi dari air keran berfilter yang airnya mengalir dari tandon atas. 

Sejauh ini kehidupanku berjalan aman.

Untuk mengisi waktu supaya gak gabut amat, aku sering menyapu bisa sampai 5x dalam sehari. Angin berhasil membawa masuk debu, dan beberapa kotoran seperti dedaunan melalui sela atap tanpa plafon dan roster. Gak papa sering nyapu, yang penting badanku bergerak.

Minggu pagi, angin akhirnya tenang. Matahari bersinar dengan terangnya. Setelah terpuruk, lalu tibalah pencerahan. Tak heran tidurku kala itu lumayan nyenyak. Kebahagiaan terpancar ketika pukul 12an siang listrik menyala. Aku langsung bergegas mengisi daya semua HP, berjaga jika tiba-tiba listrik padam lagi.

Tak lama tetangga menelpon memberi kabar, jam 2 siang nanti ada kumpulan ibu PKK.


Dalam perjalanan ke rumah tempat berkumpul, aku baru benar-benar tersadar. Angin kencang kemarin meninggalkan banyak kerusakan. Beberapa rumah yang berada di bawah masih padam listrik karena kabel listrik terputus. Ada atap yang tersapu angin, bahkan roboh. Pohon-pohon tumbang. Syukurnya tidak mengenai rumah warga.

Aku benar-benar tersadar, angin kencang itu nyata, dan dampaknya serius.

Pengalaman ini adalah yang pertama bagiku. Menghadapi angin segila itu, lalu menjalani hidup tanpa listrik berhari-hari. Ternyata begini rasanya.

Setelah kulalui, aku mengambil pelajaran bahwa yang paling melelahkan itu bukan bencananya, melainkan pikiran kita saat menghadapinya.

Wednesday, January 21, 2026

KETIKA KEPEDULIAN DATANG BEROMBONGAN

Minggu, 11 Januari 2026

Hari ini aku mengalami sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi dalam hidupku. Menjenguk orang sakit di rumah sakit bersama rombongan tetangga sedesa.

Dulu setiap kali melihat pemandangan seperti ini di rumah sakit, orang datang bergerombol dengan menyewa mini bus/ mobil pick up/ truck. Di kepalaku selalu muncul satu pikiran sinis, "seperti rombongan sirkus". Terlalu ramai, terlalu ribut, terlalu berlebihan. Aku melihatnya tanpa benar-benar memahami maknanya.


Hari ini, aku berada di sisi yang berbeda. Kali ini, aku bagian dari "rombongan sirkus" itu.

Di pedesaan, terlebih di daerah pegunungan, hal semacam ini bukan sesuatu yang istimewa. Ini kebiasaan, tradisi. Bentuk kepedulian. Sesuai yang pernah dibilang oleh Pak RT, "sakit satu sakitlah semua". Kehadiran menjadi bahasa utama.

Aku tersenyum sendiri menyadari betapa sudut pandang bisa berubah ketika kita berhenti menjadi penonton dan mulai ikut melangkah. Ramai yang dulu terasa mengganggu, kini terasa menguatkan. Bukan karena kau yang sakit, tapi karena aku melihat bagaimana sakit seseorang ditanggung bersama, meski hanya sebentar.

Hari ini aku belajar satu hal sederhana. Kepedulian tidak selalu sesuai pribadi, kadang ia datang dalam bentuk ramai, berisik, dan berombongan, namun tulus. Dan mungkin menjadi "rombongan sirkus" itu bukan hal yang annoying. Justru di sanalah aku pelan-pelan belajar menjadi manusia yang lebih peka.

Saturday, January 10, 2026

TENTANG TANAH, MIMPI, DAN LINGKARAN YANG SEPADAN

Jumat, 8 Januari 2026

Aku ingin menuliskan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Dan mungkin sebagai pembelajaran bagi siapapun yang sedang bertumbuh di tengah lingkungan yang beragam.

Hari ini aku kembali dihadapkan pada satu kenyataan yang sederhana. Hidup tidak pernah lepas dari manusia-manusia dengan latar belakang, cara pikir, dan budaya yang berbeda. Beberpa tetanggaku selalu kepo dengan proyek rumah tumbuh yang sedang kami bangun. Dan jujur saja, rasa kepo itu wajar. Rumah ini memang tidak dibangun dengan pola umum yang mereka lihat.

Yang perlahan membuatku belajar adalah komentar-komentar yang mengiringi rasa ingin tahu itu. Ada yang dengan percaya diri memberi saran tanpa diminta, "area ini harusnya begini, bagian sana seharusnya begitu". Ada pula yang berkomentar bahwa orang kota tidak suka tanah. Halaman rumahku yang seluas ini seharusnya ditanami cabai, bukan sekedar rumput. Bahkan ada yang membandingkan dengan kebun belakang rumah yang penuh dengan tanaman produktif dan katanya bisa menghasilkan panen berkuintal-kuintal, dan uang jutaan.

Di titik itu aku sadar bahwa yang melelahkan bukan sarannya, tapi asumsi bahwa semua orang harus punya mimpi/ rencana yang sama. Bagiku tanah tidak harus selalu bicara soal panen dan menghasilkan uang. Ada tanah yang ingin kujadikan ruang bernapas, ruang hidup, tempat pulang, tempat duduk sambil berjemur bahkan sambil ngopi, tempat menikmati senja, tempat pikiran tenang sebelum kembali berhadapan dengan dunia. Menanam rumput gajah mini bukan karena aku membenci tanah tapi justru aku ingin berdamai dengannya, pelan-pelan.

Aku pribadi punya bayangan besar tentang rumah ini. Tentang masa depan yang mungkin belum terlihat hari ini. Dan aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus dijelaskan, apalagi dibela di hadapan orang-orang yang tidak berusaha memahami.

Di sinilah aku sampai pada satu kesimpulan penting. Sering kali yang kita hadapi bukan perbedaan benar dan salah, melainkan perbedaan cara pandang. Ada orang yang melihat tanah sebagai alat produksi, dan ada pula yang melihatnya sebagai ruang hidup. Keduanya sah, namun tidak selalu sepadan.

Maka kalimat ini menjadi pengingat vagiku. Bergaullah dengan mereka yang minimal sepadan dengan mu. Bukan untuk merasa lebih tinggi, bukan untuk mengasingkan diri, tapi demi menjaga kewarasan. Sepadan artinya, sama-sama tahu cara mendengar, tahu batasan, dan tidak merasa perlu mengecilkan mimpi orang lain agar mimpinya sendiri terasa lebih benar.

Aku tidak marah, ada sedikit rasa terkejut dari hatiku karena cara mereka merespon. Aku memilih tetap ramah, namun aku juga belajar untuk tidak merasa wajib menjelaskan visiku kepada semua orang. Waktu, konsistensi, dan hasil akhirnya nanti akan berbicara dengan caranya sendiri.

Dan pada akhirnya, Kediaman Kaje memang tidak dibangun untuk memenuhi ekspektasi siapapun, selain mereka yang tinggal dan bertumbuh di dalamnya.

Wednesday, December 24, 2025

BESTI DAN HAL-HAL SEDERHANA

Selasa, 18 Desember 2025

Seminggu yang lalu, aku sengaja mengajak besti-bestiku untuk bertemu. Kalau kamu mengikuti ceritku dari awal, pasti tahu siapa mereka. Saat ini, besti terdekatku adalah Mbak Palupi dan Mbak Yuli. Mereka memiliki karakter yang berbeda: Mbak Pal yang super ekspresif dan super ramah, sedangkan Mbak Yul lebih soft spoken, dan tenang, kebalikan dari Mbak Pal.

Kami janjian bertemu dan makan bersama di hari Selasa, bertepatan dengan hari Mbak Yul pulang kerja lebih cepat. Kami sepakat berkumpul di rumah Mbak Pal jam 2 siang. Sayangnya, siang itu cuaca begitu gelap. Hujan gerimis yang kemudian berubah menjadi hujan deras sempat membuatku ragu utnuk berangkat. Namun, rasa rindu untuk makan bersama mereka ternyata lebih deras daripada hujannya.

Pukul 3 sore hujan mulai reda. Akupun nekat berangkat tanpa memakai jas hujan. Dalam pikiranku, kalu hujan turun di tengah perjalanan, aku bisa berhenti sebentar untuk memakainya. Yang penting sampai di rumah Mbak Pal dulu, persoalan jadi makan di luar atau tidak, itu urusan belakangan.


Sejauh perjalanan aman tanpa hujan, tapiiiii... tinggal sedikit lagi sampai, hujan justru turun deras. Mau tidak mau aku harus berhenti mengenakan jas hujan. Jam setengah 4 akhirnya aku sampai di rumah Mbak Pal. Ternyata Mbak Yul sudah datang lebih dulu, terlihat sepeda motor yang terparkir di teras dengan jas hujan pink keunguan motif polkadot putih yang tergantung di spion dan setang sebelah kanan. Tanpa pikir panjang aku turun dari sepeda motor dan segera melepas jas hujan yang basah. Untung saja jas hujanku berbahan cepat kering, meski tetap rembes jika dipakai saat hujan deras.

Aku pun masuk ke dalam rumah Mbak Pal. Kali ini tidak ada sambutan gonggongan anjing Mbak Pal, Shocky. Aku sempat mencarinya karena merasa aneh dan ada yang kurang gitu, tumben Shocky tidak mengajakku baku hantam. Di dalam rumah terlihat Papi (suami Mbak Pal) sedang rebahan sambil menjaga bayi dugong. Mbak Yuli duduk lesehan bersandar ke tembok, sementara Mbak Pal tampak masih bersiap-siap.

Awalnya aku berfikir, kalau hujan belun reda, lebih baik pesan delivery GoPud saja. Namun, Mbak Pal tampaknya terlalu bersemangat untuk makan di luar. "ah.. tenang wae, nanti pas semua sudah siap hujane udah berhenti", katanya. Benar saja, hujan benar-benar reda. Kami pun segera berangkat menuju rumah makan Mie Jagoan yang lokasinya tidak jauh dari rumah Mbak Pal. Tidak sampai 5 menit, kami sudah tiba. Papi, Kay, dan Kak Keny menyusul kemudian.


Tempatnya didominasi warna merah dan hijau dengan latar tembok putih. Nuansa Chinese terasa cukup kuat, didukung dekorasi lukisan dinding bambu dengan siluet pria sedang melakukan gerakan kugfu menendang. Ada juga figura merah berisi foto aktor kungfu era 80-90an. Jujur aku kurang paham dengan konsep rumah makan ini.


Menu andalannya adalah mie yamin dan bihun. Aku pesan bihun ayam asin. Ternyata minumnya gratis!! Aku memilih teh tawar panas. Yang pertama tersaji adalah minumannya. Melihat gelas merah besar itu, aku langasung ternganga, "wow gede banget gelasnya, isinya pun full". Tehnya enak dengan aroma khas yang bikin penasaran. Aku nikmati pelan-pelan sambil menghangatkan tangan dengan menggenggam gelas teh panas.


Tak lama kemudian, menu utama datang dengan lengkap dengan pangsit gorengnya. Dan lagi-lagi kami mendapatkan bonus pangsit rebus, favoritku. Dari tampilannya sangat menggugah selera. Potongan ayamnya besar dan melimpah. Tapi sebelum ku menyentuh bihun itu, aku tergoda untuk mencicipi pangsit rebus dahulu. Aku ambil satu lalu mencelupkannya ke saus asin, dan... sumpah enak banget!! Aku langsung jatuh cinta. Saking sukanya aku sampai menghabiskan 2 pangsit rebus tanpa memikirkan berbagi dengan yang lain, wkkkkk. Bihun asinnya pun enak, berbeda dengan mie ayam kebanyakan yang dominan manis. Untuk pangsit gorengnya, sayangnya belum sesuai seleraku.




Di tengah menikmati makanan, Mbak Yuli terlihat kurang sehat. Perutnya tiba-tiba mual hingga ingin muntah. Kemungkinan besar ias keracunan makanan dari makan siang di kantin kantornya. Salah satu menu yang ia pilih adalah bekicot. Aku langsung menyalahkan bekicot itu, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Akhirnya Mbak Yuli memuntahkan racun-racun itu, dan kemudian kondisinya membaik. Meskipun begitu, selera makannya sudah hilang. Sisa pangsit goreng akhirnya dibungkus.

Tak lama kemudian, Papi, Kay, Dan Keny tiba dan langsung memesan makanan. Setelah mereka selesai makan, kami memutuskan untuk kembali ke rumah Mbak Pal. Btw sesuai janjiku, "it's all on me". Sesampainya di rumah Mbak Pal, kami langsung rebahan di ruang tengah, hingga entah bagaimanan topik pembicaraan beralih ke kebaya. Mbak Pla pun memamerkan koleksi kebayanya. Yaaa begitulah wanita, gak pernah habis soal perbincangan :D.


Sekitar jam setengah 8 malam, aku dan Mbak Yul pamit pulang. Meski tidak hujan, aku tetap mengenakan jas hujan untuk mengurangi dinginnya angin malam. Dalam perjalanan aku sempatin untuk mampir ke toko oleh-oleh. Tujuan utama tape ketan. Setelah beberapa kali muter toko, aku tidak menemukannya. Aku hampir menyerah dan memutuskan untuk membeli beberapa cemilan. Untungnya saat di kasir aku berinisiatif bertanya ke mbaknya stok tape ketan.Ternyata ada!. Aku langsung mengambil 2 cup ukuran 500ml. Akhirnya aku pulang dengan perasaan yang senang ^.^

Aku sempat merangkum momen ku ini di youtube channel-ku. Jika kamu ingin melihatnya, link menyusul ;)


Tuesday, December 23, 2025

DIAM-DIAM KUAT DI MEJA KELUARGA BESAR

Minggu, 21 Desember 2025

Ada momen dalam hidup ketika kedewasaan bukan tentang melakukan apa yang kita inginkan, tetapi tentang menahan diri demi sesuatu yang lebih besar. Ada hari-hari di mana harus memilih antara menjaga hati sendiri atau menjaga keaadaan. Dan hari itu, aku memilih yang kedua.

Aku diundang ke acara keluarga besar dari suamiku. Tapi ada satu sosok yang tidak ingin kutemui, bahkan melihat wajahnya saja aku merasa berat. Karena alasan itu aku memutuskan untuk tidak hadir, meski ada paksaan dan doraongan dari tante-tanteku.

Aku hampir bertahan dengan keputusan ku untuk tidak datang. Namun, ada satu alasan kuat yang kahirnya membuatku berubah pikiran. Alasan yang memaksaku menyingkirkan egoku, menelan perasaan, memilih untuk hadir, dan tetap terlihat baik-baik saja. Mu tidak mau!!

Dengan hati yang berat, aku melangkah. Memasuki rumah itu, lalu masuk di raung itu. Kuat-kuatin aja, kataku pada diri sendiri. Jangan terpancing emosi. Jangan sampai memperlihatkan luka yang sebenarnya belum sembuh.

Aku datang dengan senyum yang sengaja kupasang. Ramah, sopan, dan tenang. Padahal dibalik ekspresi itu ada rasa yang sudah mati. Ada luka yang memilih diam. Aku berusaha menjalani peran sebagai ponakan dan anak mantu yang baik, menjaga sikap, menjaga kata, dan menjaga hati agar tetap tenang. Syukurnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Tidak ada drama, tidak ada ledakan emosi. Aku melewatinya.

Dari situ aku belajar, bahwa mungkin inilah bentuk kedewasaan. Bukan selalu tentang bahagia dan nyaman, tapi juga tentang bertahan tanpa melukai siapa pun, termasuk diriku sendiri. Bukan juga soal persaan yang sembuh, tapi tentang kemampuan untuk mengendalikan diri.

That smile of mine was not for joy, but from endurance

EMPAT HARI DAN SISA RINDU

17 February 2026 Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat har...