Kediaman Kaje
Digital diary berisi momen, dan refleksi sehari-hari. Ditulis sederhana namun penuh makna. Selamat datang di Kediaman Kaje ^_^
Tuesday, February 17, 2026
EMPAT HARI DAN SISA RINDU
Tuesday, February 3, 2026
AKU PINDAH DI DESA, INI YANG TERJADI
"Yakin mau pindah di desa? Di desa tu orang-orangnya resek loh"
Mendengar cerita dari orang lain apalagi cerita negatif itu gampang nyelip di kepala, meski kita belum ngalamin sendiri.
Sebelum pindah di Lereng Merbabu, aku sering sekali mendengarkan kisah yang tidak mengenakkan tentang hidup di desa dari beberapa temanku yang sudah tinggal di desa. Aku khawatir, takut ceritaku nanti akan berakhir sama (T.T). tapi aku berusa tetap untuk berfikiran positif. Dimanapun kita berada pasti ada pro dan kontranya. Tergantung sudut pandang dan bagaimana cara kita menyikapinya.
Saat membangun Kediaman Kaje, aku sempat dimanfaatkan oleh calon tetanggaku. Sebagai pendatang, aku harus membayar biaya sebagai warga baru yang bagiku nominalnya sangat besar dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Kalau di desa lain 1 juta itu sadah nominal tertinggi, tidak bagi di desa Kediaman Kaje dibangun. 5 kali lipatnya dari nominal tertinggi di desa lain. Aku merasa dirampok. Mentang-mentang aku dari kota. Seperti aji mumpung gitu.
Aku tidak sepenuhnya mengerti, nominal sebesar itu untuk apa aja. Pernah di kasih hitam di atas putih, tapi aku lupa. Seingatku masih kusimpan di rumah Bintaro. Sudah pernah dijelaskan oleh Pak RT, Ketua Gotong Royong, dan Tokoh Masyarakat. Tapi aku tidak mengerti karena keterbatasan bahasa Jawa yang aku pahami. Bahasa Jawa mereka terlalu halus untuk telingaku yang Jowo kasar.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai paham. Ternyata bukan aku saja yang dikenakan biaya mahal itu. Warga asli pun juga dikenakan biaya juga jika mereka membangun rumah sendiri. Ini biasanya bagi anak keturunan warga asli yang sudah menikah dan membangun rumah sendiri di desa ini. Ternyata biaya besar itu sudah menjadi aturan mutlak di dusun ini, tidak hanya pendatang tapi juga berlaku utnuk warga asli. Sistem pembayarannya pun lebih manusiawi, bisa dicicil semampunya dalam waktu tak terhingga.
Di fase itu, ceritanya berubah, bukan lagi dimanfaatkan tapi ritual sosial masuk komunitas, yang terasa tidak wajar di awal bagi orang luar.
Belum lama pindah aku sudah mendengar kesaksian dari beberapa tetanggaku untuk waspada terhadap tetangga lain yang mereka sebutkan. Terutama mereka yang sempat mengambil tanpa ijin bahan-bahan bangunanku saat Kediaman Kaje proses dibangun. Besi, pralon, linggis, bahkan lampu pun pernah hilang 2x. Dan mungkin ini salah satu penyebab kurangnya kualitas Kediaman Kaje.
Duniaku menjadi abu-abu, belum hitan, belum putih. Refleks di pikiranku adalah waspada ke semua arah, semua tetanggaku tanpa terkecuali. Tentu saja aku tidak menutup diri sepenuhnya, aku cuma memperlambat membuka kepercayaan.
Waktu pun berjalan. Hampir 9 bulan aku tinggal di sini di tengah mereka. Waktu yang masih dibilang seumur jagung untuk menyingkap topeng. Baik topeng orang lain maupun topeng ketakutanku sendiri. Saat ini yang kutemukan bukan 'tetangga resek' seperti yang diceritakan teman-temanku terdahulu, tapi manusia-manusia biasa yang hidup bersama.
Tidak ada yang terlalu diagungkan, tidak ada yang dikecilkan. Anak-anak punya ruang, remaja punya suara, orang tua punya tempat. Semua seimbang di posisinya. Hal seperti itu mahal nilainya. Kalaupun ada yang resek, wajar lah ya. Hidup tidak pernah steril dari gesekan.
Rezeki bukanlah soal angka di atas kertas mata uang, tapi kesesuaian hidup. Antara diri kita, alam, dan ritme sehari-hari.
Di lereng Merbabu lagi-lagi aku belajar untuk hidup berdampingan dan menerima ketidak sempurnaan dengan lapang. Semoga kenyamanan ku tinggal di sini bukan karena aku warga baru, dan semoga rasa syukur ini tidak membeku, tapi terus hangat seperti kopi pagi. Disruput pelan, sambil memandang hidup yang akhirnya terasa pas.
Tuesday, January 27, 2026
DUA HARI DUA MALAM TANPA LISTRIK, DAN ANGIN YANG MENGUJI KEPALA
Jumat, 23 Januari 2026
Sepulang dari gym sekitar pukul 1 atau 2 siang, hujan turun, dan listrik sudah padam. Hari itu berjalan biasa saja, sampai matahari tenggelam.
Begitu malam datang, angin berhembus sangat kencang. Suaranya riuh memenuhi telinga dan tanpa henti. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Bukan semata karena hawa dingin yang masuk dari sela-sela atap rumah tanpa plafon, tapi karena suara angin yang terus mengamuk, memancing pikiran-pikiran negatif di kepalaku.
Aku menatap atap rumah, memastikan tak ada yang terhempas atau tampak mencurigakan. Sedikit lega, tak kutemukan apapun. Tapi pikiran ini tak bisa berhenti. Aku mulai membayangkan angin mengangkat batu-batu split di taman kering. Imajinasiku semakin liar ketika di balik jendela tidak terlihat apa-apa, gelap, kecuali langit.
Aku benar-benar tak bisa tidur!!
Merasa keadaan kian memburuk, angin semakin kencang, dan suarapun semakin riuh. Aku berpindah dari kamar tidur atas, ke ruang TV di lantai bawah. Suara angin masih terdengar tapi sedikit lebih pelan ketimbang saat aku di lantai atas. Pikiranku kembali bekerja. Bagaimana dengan kanopi taman tengah yang beru terpasang 3 minggu yang lalu? Apakah cukup kokoh? Bagaimana jika satu per satu terlepas dan merusak rumah tetangga? WADUH!!
Lalu pikiranku beralih ke pintu kaca lipat. Dari dalam, pintu itu tampak seperti ditarik keluar oleh angin. Aku membayangkan kaca pecah. Aaaarghh... kepalaku isinya liar semua!!. Kekhawatiran datang bertubi-tubi, sementara aku tak bisa melihat kondisi luar dengan jelas dari balik pintu kaca atau jendela.
Di tengah gelap aku mencoba tenang. Baterai HP lama tersisa 40%, sedangkan IPhone 30%. Melihat lilin yang semakin pendek mengkhawatirkanku akan tidak adanya penerangan sama sekali jika baterai pun ikut habis. Terbenak di kepalaku untuk mengisi daya lewat motor Scoopy aku, si Keong. Tak apa aki tekor, yang penting ada penerangan meski lewat flash HP sudah sangat membantu. Sempat naik ke angka 63%, "lumayan" dalam hatiku. Tapi benar saja, aki Keong tekor. Esoknya langsung menuju rumah tetangga untuk ngecharge aki. Tetap saja harus menunggu listrik nyala dulu. Tak apa, toh dengan angin sekencang ini aku mau kemana? Jalan dengan membawa badanku sendiri aja hampir terjatuh karena terhempas oleh angin kencang itu.
Selanjutnya, aku pasrah. Dengan modal HP lama yang terisi 63% itu, harus aku hemat-hemat sampai listrik kembali menyala normal. Paket data, wifi aku non aktifkan supaya demi mengirit daya. Setidaknya aku sudah memberi kebar ke Om Lelaki Surga.
Sedikit lega kurasakan saat matahari bersinar. Dari jendela lantai atas, aku memantau keadaan sekitar rumahku, tampak aman-aman saja. Warga Desa tetap beraktivitas seperti hari biasa. Mengarit, mencari kayu bakar, bahkan bergosip di depan warung dengan rambut dan pakaian yang terombang ambing angin. Ternyata level bertahan hidup orang desa itu luar biasaaa!! SALUT dah!!.
Tantangan berikutnya adalah air. Air PAM Swadaya Desa mengalir dengan lancar. Tapi tanpa adanya listrik, air dari tampungan tandon bawah tidak bisa mengalir sampai tandon atas. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengambil air secara manual dengan gayung dan 2 ember kecil, untuk keperluan mandi dan cuci mencuci. Sedangkan air konsumsi dari air keran berfilter yang airnya mengalir dari tandon atas.
Sejauh ini kehidupanku berjalan aman.
Untuk mengisi waktu supaya gak gabut amat, aku sering menyapu bisa sampai 5x dalam sehari. Angin berhasil membawa masuk debu, dan beberapa kotoran seperti dedaunan melalui sela atap tanpa plafon dan roster. Gak papa sering nyapu, yang penting badanku bergerak.
Minggu pagi, angin akhirnya tenang. Matahari bersinar dengan terangnya. Setelah terpuruk, lalu tibalah pencerahan. Tak heran tidurku kala itu lumayan nyenyak. Kebahagiaan terpancar ketika pukul 12an siang listrik menyala. Aku langsung bergegas mengisi daya semua HP, berjaga jika tiba-tiba listrik padam lagi.
Tak lama tetangga menelpon memberi kabar, jam 2 siang nanti ada kumpulan ibu PKK.
Dalam perjalanan ke rumah tempat berkumpul, aku baru benar-benar tersadar. Angin kencang kemarin meninggalkan banyak kerusakan. Beberapa rumah yang berada di bawah masih padam listrik karena kabel listrik terputus. Ada atap yang tersapu angin, bahkan roboh. Pohon-pohon tumbang. Syukurnya tidak mengenai rumah warga.
Aku benar-benar tersadar, angin kencang itu nyata, dan dampaknya serius.
Pengalaman ini adalah yang pertama bagiku. Menghadapi angin segila itu, lalu menjalani hidup tanpa listrik berhari-hari. Ternyata begini rasanya.
Setelah kulalui, aku mengambil pelajaran bahwa yang paling melelahkan itu bukan bencananya, melainkan pikiran kita saat menghadapinya.
Wednesday, January 21, 2026
KETIKA KEPEDULIAN DATANG BEROMBONGAN
Minggu, 11 Januari 2026
Hari ini aku mengalami sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi dalam hidupku. Menjenguk orang sakit di rumah sakit bersama rombongan tetangga sedesa.
Dulu setiap kali melihat pemandangan seperti ini di rumah sakit, orang datang bergerombol dengan menyewa mini bus/ mobil pick up/ truck. Di kepalaku selalu muncul satu pikiran sinis, "seperti rombongan sirkus". Terlalu ramai, terlalu ribut, terlalu berlebihan. Aku melihatnya tanpa benar-benar memahami maknanya.
Hari ini, aku berada di sisi yang berbeda. Kali ini, aku bagian dari "rombongan sirkus" itu.
Di pedesaan, terlebih di daerah pegunungan, hal semacam ini bukan sesuatu yang istimewa. Ini kebiasaan, tradisi. Bentuk kepedulian. Sesuai yang pernah dibilang oleh Pak RT, "sakit satu sakitlah semua". Kehadiran menjadi bahasa utama.
Aku tersenyum sendiri menyadari betapa sudut pandang bisa berubah ketika kita berhenti menjadi penonton dan mulai ikut melangkah. Ramai yang dulu terasa mengganggu, kini terasa menguatkan. Bukan karena kau yang sakit, tapi karena aku melihat bagaimana sakit seseorang ditanggung bersama, meski hanya sebentar.
Hari ini aku belajar satu hal sederhana. Kepedulian tidak selalu sesuai pribadi, kadang ia datang dalam bentuk ramai, berisik, dan berombongan, namun tulus. Dan mungkin menjadi "rombongan sirkus" itu bukan hal yang annoying. Justru di sanalah aku pelan-pelan belajar menjadi manusia yang lebih peka.
Saturday, January 10, 2026
TENTANG TANAH, MIMPI, DAN LINGKARAN YANG SEPADAN
Jumat, 8 Januari 2026
Aku ingin menuliskan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Dan mungkin sebagai pembelajaran bagi siapapun yang sedang bertumbuh di tengah lingkungan yang beragam.
Hari ini aku kembali dihadapkan pada satu kenyataan yang sederhana. Hidup tidak pernah lepas dari manusia-manusia dengan latar belakang, cara pikir, dan budaya yang berbeda. Beberpa tetanggaku selalu kepo dengan proyek rumah tumbuh yang sedang kami bangun. Dan jujur saja, rasa kepo itu wajar. Rumah ini memang tidak dibangun dengan pola umum yang mereka lihat.
Yang perlahan membuatku belajar adalah komentar-komentar yang mengiringi rasa ingin tahu itu. Ada yang dengan percaya diri memberi saran tanpa diminta, "area ini harusnya begini, bagian sana seharusnya begitu". Ada pula yang berkomentar bahwa orang kota tidak suka tanah. Halaman rumahku yang seluas ini seharusnya ditanami cabai, bukan sekedar rumput. Bahkan ada yang membandingkan dengan kebun belakang rumah yang penuh dengan tanaman produktif dan katanya bisa menghasilkan panen berkuintal-kuintal, dan uang jutaan.
Di titik itu aku sadar bahwa yang melelahkan bukan sarannya, tapi asumsi bahwa semua orang harus punya mimpi/ rencana yang sama. Bagiku tanah tidak harus selalu bicara soal panen dan menghasilkan uang. Ada tanah yang ingin kujadikan ruang bernapas, ruang hidup, tempat pulang, tempat duduk sambil berjemur bahkan sambil ngopi, tempat menikmati senja, tempat pikiran tenang sebelum kembali berhadapan dengan dunia. Menanam rumput gajah mini bukan karena aku membenci tanah tapi justru aku ingin berdamai dengannya, pelan-pelan.
Aku pribadi punya bayangan besar tentang rumah ini. Tentang masa depan yang mungkin belum terlihat hari ini. Dan aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus dijelaskan, apalagi dibela di hadapan orang-orang yang tidak berusaha memahami.
Di sinilah aku sampai pada satu kesimpulan penting. Sering kali yang kita hadapi bukan perbedaan benar dan salah, melainkan perbedaan cara pandang. Ada orang yang melihat tanah sebagai alat produksi, dan ada pula yang melihatnya sebagai ruang hidup. Keduanya sah, namun tidak selalu sepadan.
Maka kalimat ini menjadi pengingat vagiku. Bergaullah dengan mereka yang minimal sepadan dengan mu. Bukan untuk merasa lebih tinggi, bukan untuk mengasingkan diri, tapi demi menjaga kewarasan. Sepadan artinya, sama-sama tahu cara mendengar, tahu batasan, dan tidak merasa perlu mengecilkan mimpi orang lain agar mimpinya sendiri terasa lebih benar.
Aku tidak marah, ada sedikit rasa terkejut dari hatiku karena cara mereka merespon. Aku memilih tetap ramah, namun aku juga belajar untuk tidak merasa wajib menjelaskan visiku kepada semua orang. Waktu, konsistensi, dan hasil akhirnya nanti akan berbicara dengan caranya sendiri.
Dan pada akhirnya, Kediaman Kaje memang tidak dibangun untuk memenuhi ekspektasi siapapun, selain mereka yang tinggal dan bertumbuh di dalamnya.
Wednesday, December 24, 2025
BESTI DAN HAL-HAL SEDERHANA
Tuesday, December 23, 2025
DIAM-DIAM KUAT DI MEJA KELUARGA BESAR
EMPAT HARI DAN SISA RINDU
17 February 2026 Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat har...
-
Jumat, 21 November 2025 Kamis kemaren, ada beberapa momen yang aku alami, mulai dari alergi yang tiba-tiba kambuh, jenguk teman yang katanya...
-
Minggu, 14 Desember 2025 Hai Gess... Kali ini aku mau mengutarakan kekesalanku yang aku alami kemarin malam. Ada beberapa hal yang membuatku...
-
Rabu, 19 November 2025 Hari ini, aku memutuskan untuk membuat blog lagi. Lagi?? Ya, karena sebelumnya aku sudah pernah punya dua blog. Sayan...

























