Saturday, January 10, 2026

TENTANG TANAH, MIMPI, DAN LINGKARAN YANG SEPADAN

Jumat, 8 Januari 2026

Aku ingin menuliskan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Dan mungkin sebagai pembelajaran bagi siapapun yang sedang bertumbuh di tengah lingkungan yang beragam.

Hari ini aku kembali dihadapkan pada satu kenyataan yang sederhana. Hidup tidak pernah lepas dari manusia-manusia dengan latar belakang, cara pikir, dan budaya yang berbeda. Beberpa tetanggaku selalu kepo dengan proyek rumah tumbuh yang sedang kami bangun. Dan jujur saja, rasa kepo itu wajar. Rumah ini memang tidak dibangun dengan pola umum yang mereka lihat.

Yang perlahan membuatku belajar adalah komentar-komentar yang mengiringi rasa ingin tahu itu. Ada yang dengan percaya diri memberi saran tanpa diminta, "area ini harusnya begini, bagian sana seharusnya begitu". Ada pula yang berkomentar bahwa orang kota tidak suka tanah. Halaman rumahku yang seluas ini seharusnya ditanami cabai, bukan sekedar rumput. Bahkan ada yang membandingkan dengan kebun belakang rumah yang penuh dengan tanaman produktif dan katanya bisa menghasilkan panen berkuintal-kuintal, dan uang jutaan.

Di titik itu aku sadar bahwa yang melelahkan bukan sarannya, tapi asumsi bahwa semua orang harus punya mimpi/ rencana yang sama. Bagiku tanah tidak harus selalu bicara soal panen dan menghasilkan uang. Ada tanah yang ingin kujadikan ruang bernapas, ruang hidup, tempat pulang, tempat duduk sambil berjemur bahkan sambil ngopi, tempat menikmati senja, tempat pikiran tenang sebelum kembali berhadapan dengan dunia. Menanam rumput gajah mini bukan karena aku membenci tanah tapi justru aku ingin berdamai dengannya, pelan-pelan.

Aku pribadi punya bayangan besar tentang rumah ini. Tentang masa depan yang mungkin belum terlihat hari ini. Dan aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus dijelaskan, apalagi dibela di hadapan orang-orang yang tidak berusaha memahami.

Di sinilah aku sampai pada satu kesimpulan penting. Sering kali yang kita hadapi bukan perbedaan benar dan salah, melainkan perbedaan cara pandang. Ada orang yang melihat tanah sebagai alat produksi, dan ada pula yang melihatnya sebagai ruang hidup. Keduanya sah, namun tidak selalu sepadan.

Maka kalimat ini menjadi pengingat vagiku. Bergaullah dengan mereka yang minimal sepadan dengan mu. Bukan untuk merasa lebih tinggi, bukan untuk mengasingkan diri, tapi demi menjaga kewarasan. Sepadan artinya, sama-sama tahu cara mendengar, tahu batasan, dan tidak merasa perlu mengecilkan mimpi orang lain agar mimpinya sendiri terasa lebih benar.

Aku tidak marah, ada sedikit rasa terkejut dari hatiku karena cara mereka merespon. Aku memilih tetap ramah, namun aku juga belajar untuk tidak merasa wajib menjelaskan visiku kepada semua orang. Waktu, konsistensi, dan hasil akhirnya nanti akan berbicara dengan caranya sendiri.

Dan pada akhirnya, Kediaman Kaje memang tidak dibangun untuk memenuhi ekspektasi siapapun, selain mereka yang tinggal dan bertumbuh di dalamnya.

No comments:

Post a Comment

EMPAT HARI DAN SISA RINDU

17 February 2026 Hari ini terasa sedikit begitu berat. Libur imlek long weekend ini cepat sekali berlalu. Aku dan Om Lelaki Surga, empat har...