Jumat, 23 Januari 2026
Sepulang dari gym sekitar pukul 1 atau 2 siang, hujan turun, dan listrik sudah padam. Hari itu berjalan biasa saja, sampai matahari tenggelam.
Begitu malam datang, angin berhembus sangat kencang. Suaranya riuh memenuhi telinga dan tanpa henti. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Bukan semata karena hawa dingin yang masuk dari sela-sela atap rumah tanpa plafon, tapi karena suara angin yang terus mengamuk, memancing pikiran-pikiran negatif di kepalaku.
Aku menatap atap rumah, memastikan tak ada yang terhempas atau tampak mencurigakan. Sedikit lega, tak kutemukan apapun. Tapi pikiran ini tak bisa berhenti. Aku mulai membayangkan angin mengangkat batu-batu split di taman kering. Imajinasiku semakin liar ketika di balik jendela tidak terlihat apa-apa, gelap, kecuali langit.
Aku benar-benar tak bisa tidur!!
Merasa keadaan kian memburuk, angin semakin kencang, dan suarapun semakin riuh. Aku berpindah dari kamar tidur atas, ke ruang TV di lantai bawah. Suara angin masih terdengar tapi sedikit lebih pelan ketimbang saat aku di lantai atas. Pikiranku kembali bekerja. Bagaimana dengan kanopi taman tengah yang beru terpasang 3 minggu yang lalu? Apakah cukup kokoh? Bagaimana jika satu per satu terlepas dan merusak rumah tetangga? WADUH!!
Lalu pikiranku beralih ke pintu kaca lipat. Dari dalam, pintu itu tampak seperti ditarik keluar oleh angin. Aku membayangkan kaca pecah. Aaaarghh... kepalaku isinya liar semua!!. Kekhawatiran datang bertubi-tubi, sementara aku tak bisa melihat kondisi luar dengan jelas dari balik pintu kaca atau jendela.
Di tengah gelap aku mencoba tenang. Baterai HP lama tersisa 40%, sedangkan IPhone 30%. Melihat lilin yang semakin pendek mengkhawatirkanku akan tidak adanya penerangan sama sekali jika baterai pun ikut habis. Terbenak di kepalaku untuk mengisi daya lewat motor Scoopy aku, si Keong. Tak apa aki tekor, yang penting ada penerangan meski lewat flash HP sudah sangat membantu. Sempat naik ke angka 63%, "lumayan" dalam hatiku. Tapi benar saja, aki Keong tekor. Esoknya langsung menuju rumah tetangga untuk ngecharge aki. Tetap saja harus menunggu listrik nyala dulu. Tak apa, toh dengan angin sekencang ini aku mau kemana? Jalan dengan membawa badanku sendiri aja hampir terjatuh karena terhempas oleh angin kencang itu.
Selanjutnya, aku pasrah. Dengan modal HP lama yang terisi 63% itu, harus aku hemat-hemat sampai listrik kembali menyala normal. Paket data, wifi aku non aktifkan supaya demi mengirit daya. Setidaknya aku sudah memberi kebar ke Om Lelaki Surga.
Sedikit lega kurasakan saat matahari bersinar. Dari jendela lantai atas, aku memantau keadaan sekitar rumahku, tampak aman-aman saja. Warga Desa tetap beraktivitas seperti hari biasa. Mengarit, mencari kayu bakar, bahkan bergosip di depan warung dengan rambut dan pakaian yang terombang ambing angin. Ternyata level bertahan hidup orang desa itu luar biasaaa!! SALUT dah!!.
Tantangan berikutnya adalah air. Air PAM Swadaya Desa mengalir dengan lancar. Tapi tanpa adanya listrik, air dari tampungan tandon bawah tidak bisa mengalir sampai tandon atas. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengambil air secara manual dengan gayung dan 2 ember kecil, untuk keperluan mandi dan cuci mencuci. Sedangkan air konsumsi dari air keran berfilter yang airnya mengalir dari tandon atas.
Sejauh ini kehidupanku berjalan aman.
Untuk mengisi waktu supaya gak gabut amat, aku sering menyapu bisa sampai 5x dalam sehari. Angin berhasil membawa masuk debu, dan beberapa kotoran seperti dedaunan melalui sela atap tanpa plafon dan roster. Gak papa sering nyapu, yang penting badanku bergerak.
Minggu pagi, angin akhirnya tenang. Matahari bersinar dengan terangnya. Setelah terpuruk, lalu tibalah pencerahan. Tak heran tidurku kala itu lumayan nyenyak. Kebahagiaan terpancar ketika pukul 12an siang listrik menyala. Aku langsung bergegas mengisi daya semua HP, berjaga jika tiba-tiba listrik padam lagi.
Tak lama tetangga menelpon memberi kabar, jam 2 siang nanti ada kumpulan ibu PKK.
Dalam perjalanan ke rumah tempat berkumpul, aku baru benar-benar tersadar. Angin kencang kemarin meninggalkan banyak kerusakan. Beberapa rumah yang berada di bawah masih padam listrik karena kabel listrik terputus. Ada atap yang tersapu angin, bahkan roboh. Pohon-pohon tumbang. Syukurnya tidak mengenai rumah warga.
Aku benar-benar tersadar, angin kencang itu nyata, dan dampaknya serius.
Pengalaman ini adalah yang pertama bagiku. Menghadapi angin segila itu, lalu menjalani hidup tanpa listrik berhari-hari. Ternyata begini rasanya.
Setelah kulalui, aku mengambil pelajaran bahwa yang paling melelahkan itu bukan bencananya, melainkan pikiran kita saat menghadapinya.
















